Saya telat tahu tentang iklan The Guardian ini. Menarik. Sebuah cara untuk menyatakan bahwa jurnalisme sebagai sebuah disiplin berikut prosesnya, yang dilakukan oleh sebuah lembaga, tetap bisa hidup karena hirau dan memanfaatkan media sosial.
The Guardian terbit di Inggris sejak 1959, meneruskan koran lama The Manchester Guardian yang terbit sejak 1821. Dulu kantor pertama saya melanggani koran ini, dan salah satu rubrik menarik adalah kolom film Derek Malcolm yang tulisannya tidak “ndakik-ndakik”. Yah, meski bukan perbandingan yang pas, membaca tulisan sederhana Malcolm seperti (dulu) membaca road test Jeremy Clarkson di Top Gear; pembaca tak merasa membaca liputan otomotif, hanya menikmati tulisan yang menyinggung mobil — tepatnya: mobil sebagai sosok yang berjiwa.

Saya menyukai beberapa truk tangki Pertamina dan tangki lain pembawa cairan kimia yang dikemas bersih dan kentara. Yang saya maksudkan kentara adalah dari jauh terlihat, karena bagian belakang tangki ditempeli stiker reflektif. Selain itu lampu belakang pun terang karena menggunakan LED. Bandingkan dengan umumnya truk yang bertepal gelap penyerap cahaya, sudah begitu lampu belakang pun kecil dan kadang padam, sehingga dari jauh, terutama pada malam hari, kurang terlihat. Truk-truk macam itu mestinya tidak boleh jalan.


Melintasi bahu jalan tol. Setiap hari terjadi. Pelakunya bisa angkot reot, bisa mobil kinclong seharga Rp 0,5 miliar ke atas. Setelah melalui bahu jalan dan menyalip mobil lain, setiap pelaku biasanya menyodok antrean. Sepuluh tahun lalu ketika mobil belum sebanyak sekarang, dan kemacetan belum segila hari ini, pelanggaran ini sudah banyak pelakunya; apalagi sekarang. Mungkin mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa bahu jalan itu untuk keperluan darurat — dari mobil mogok sampai untuk laju ambulans cepat dan mobil derek.

Ketika akan memasuki jalan tol saya sempat berprasangka bahwa mobil depan itu seperti umumnya mobil lain yang akan melindas delta bergaris pemisah lajur, apalagi ada truk mogok di bahu jalan. Ternyata dugaan saya salah. Mobil itu berpindah lajur setelah melewati delta. Pada beberapa ruas jalan tol, delta bergaris ini sampai dipagari agar tak dilanggar. Kenapa bisa begitu, yah tahu sendirilah. Banyak orang bisa menyetir tapi membedakan garis putus-putus dan garis tak putus di jalan saja tidak bisa, lalu seenaknya pindah lajur — tanpa lampu sen pula.

Lincah sekali pengendara sepeda motor yang mengangkut tumpukan kotak telur ayam ini. Padahal sekali tersenggol atau menyenggol mobil semua telur bisa pecah. Jadi pepatah yang mengatakan jangan menaruh telur dalam satu keranjang eh… kotak itu tak selamanya benar, karena ketika ditumpuk risikonya menjadi lebih berat.

Ya bentuknya, ukurannya, desainnya, dan peletakannya, seolah sekadar memenuhi tabel daftar pekerjaan untuk Pemilihan Gubenur DKI 2012. Saya ragu apakah banyak yang membacanya. “Kita* sudah melakukan sosialisasi sejak awal Mei, Pak!” begitu kira-kira laporan birokratnya kepada masyarakat.
*) maksudnya “kami”

Ada yang bilang, pembuat kalender ini suka bermain-main dengan kata secara paksa. Misalnya “bermain” dan “beriman”, padahal kedua kata itu tak ada hubungannya. Yang pasti di kantor pemilik kalender itu banyak karyawannya yang suka bermain, dari facebookan, twitteran, instagraman, pathan, blog-blogan, lego, sepedaan, dan menggambar. Masa kecil mereka terlalu membahagiakan sehingga mereka ingin memperpanjangnya.

Kalender ukuran A3 di sebuah rumah kerja, eh sebuah kantor. Orang Jawa bilang, “Kalender kok nganyelaké, ora mutu babar blas!”

Tadi pagi saya pikir Kompas kacau dalam pencetakannya. Sehalaman penuh cetakannya bertumpuk. Oh, ternyata iklan Mazda CX-5 dalam kertas kalkir, di halaman depan dan belakang. Saya tak tahu berapa perbandingan pembaca yang terganggu dan suka. Lebih khusus lagi, berapa persen dari pembaca Kompas hari ini menyerap iklan itu. Bagi saya sih versi cetak koran dan majalah masih memberikan selingan akrobatik yang tak ada di versi digital. Lha iyalah, wong karakteristik salurannya beda.

BTW, di luar orang teknik siapa ya masih menggunakan kertas kalkir? Saya dulu, meski berkuliah di bidang nonteknik, cukup akrab dengan kertas kalkir, “rapido” (ini merek, yang benar adalah drafting pen), mesin gambar, dan meja gambar — ya, ditambah Mecanorma, Letraset, dan Rugos. Sekarang lupa dan ogah mengulangi. :D

Saya pernah memotret yang serupa beberapa tahun lalu di Bogor dan mengeblogkannya tapi belum ketemu. Yang ini saya pergoki pekan lalu di Pondok Indah, Jakarta Selatan, tertempel pada sebuah Honda Freed. Tampaknya Mboknéancuk nama sebuah komunitas berlatar orang Jawa (Timur?). Banyak bahasa yang mengenal makian dengan mempertautkan nama genital atau aktivitas seksual dengan sosok ibu. Orang berbahasa Inggris punya “motherfucker”, “son of a bitch”, dan kita punya “pukimai”, “cukimai”, serta “(i)tilémbokné”. Semua makian penyalur kekesalan itu tampaknya sekalian untuk menghina dan membangkitkan amarah kemudian perlawanan dari pihak termaki. Namun “jancuk”, “diancuk”, dan “mboknéancuk” juga bisa menjadi seruan akrab di kalangan terbatas.
Random Posts
Pemburu Buka Puasa Bersama
09/09/2009Recent Comments
maulana
» saudara2ku kita tetap waspada, meski situs pesugihan islami al ghoniyyu di kaltim dan yayasan rumah dakwah alfatihah di aceh itu sdh diblokir, tapi jangan lengah karena mereka bisa ber-ganti2 nama, tapi orangnya itu2 juga atau...
maulana
» Tadinya saya juga mau transfer ke yayasan al ghoniyyu, tapi saya sdh cek sendiri langsung keberadaan alamat yayasan tsb di jl raya bontang km.17 gang dewandaru desa sangkima lama sangatta, ternyata hanya hutan belantara alias fiktif....
Totot
» Ini kan memang negara tanpa pemerintah. Jadi setiap orang harus bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri, dengan biaya dari kantungnya sendiri. Beruntunglah mereka yang duitnya berlimpah.
mpokb
» Hehe, kayak kopitiam itu ya.. Hiks.
mpokb
» Kita ini bangsa ceroboh, kreatif, pengambil risiko tinggi atau adaptif sih? :D
mpokb
» Solusi murmer, di gambar proyek mestinya nggak ada ya :D Btw, kayaknya saya kenal sama yang di foto dah :D
mpokb
» Duh… *speechless lihat terjemahan dan font-nya*
mpokb
» Bang Paman dulu suka pakai Mutoh ya? :D Undangan pernikahan juga kadang dilapisi kertas kalkir :)
mpokb
» Lho, konon zaman sekarang usia 30-an masih terhitung remaja, Bang Paman. Nanti kalau sudah usia 60-an baru dianggap dewasa :D Ya gimana lagi, tantangan manusia modern memang nggak seekstrem zaman baheula, ketika belum ada teknologi yang...
Joko Sutarto
» Wah, sejak pindah Jogja saya jarang nemu makian seperti itu lagi, Paman. Dulu waktu masih di Jatim umpatan itu sangat akrab di telinga saya. Saling memisuhi tanda keakraban? Betul kalau di Surabaya. :)







