Ternyata pada halaman resmi Queen di Youtube ada klip Roger Meddows Taylor (drummer, kini 61), yang dipasang sejak tiga bulan lalu. Klip itu tidak bisa di-share, tapi dari YouTube malah ada versi olahan seperti karaoke. Sudah tua banget Taylor sekarang — lha nggak mungkin kalau muda terus. Dulu, pada jayanya Queen, dia adalah anggota terkeren. Banyak cewek menyukainya. Uniknya dalam video tur Queen tahun 80-an, zaman Betamax itu, Taylor adalah anggota yang beberapa kali dibidik sedang momong anak bersama istri.
Ketika kian menua, pasca-Mercury, dia lebih tampak sebagai lelaki rumahan. Yang sering mewakili Queen di publik, misalnya menerima penghargaan, adalah Brian May dan Roger Deacon. Dalam wawancara video yang saya lihat 2002, Taylor tampak sebagai gentleman Inggris yang mapan, tapi belum sesepuh sekarang — berbeda dari May yang menekuni astrofisika itu.
Lampu bekas pakai dari Pak Doktor itu akhirnya pensiun. Usianya tak sampai setahun. Lumayan, dia bertahan enam bulan. Santai saja, lebih dari sekali saya mengalami lampu baru yang terpasang langsung putus. Yang terakhir, bukan ini, begitu terpasang bisa menyala lalu redup, dan dua minggu kemudian menyerah, padam. Untung bergaransi sehingga bisa saya tukar dengan yang baru. Yang ini? Terlalu kalau kita minta garansi.
Mulanya ketika mencari gambar kerbau di Google, untuk ilustrasi di situ, saya malah mendapatkan gambar cewek. Setelah sampai ke situsnya, saya menjumpai gambar promo bertema “nasi rames” Malaysia itu. Ketika saya mencari versi yang lebih tajam malah mendapatkan versi burger. Menarik, operator sadar keragaman konsumen. Isi pesan sih sama. Nah, temuan dari kata kunci “kerbau lumpur” yang mengantarkan saya ke situs promo Streamyx itu lihat di bawah.
Itulah kekuatan brand di benak konsumen. Di dalam benak itu ada harapan, keyakinan, bahkan kebanggaan terhadap produk. Bagi produsen dan pedagang yang “kreatif” dan “smart”, dalam arti tak mau kecapekan membangun merek sendiri, bermirip-mirip bukan masalah. Toh konsumen juga mau. Apalagi harganya di bawah Rp 1 juta, ber-Wi-Fi pula. Mirip iPhoney, ketika iPhone belum resmi masuk Indonesia.
Mestinya ukuran bingkai SIM card memang semakin mengecil karena yang penting kepingnya. Dulu, belasan tahhun lalu, memang ada ponsel yang slotnya seukuran bingkai SIM card. Tapi kalau sekarang keping dijual tanpa bingkai, padahal tanpa kemasan yang besar, pasti gampamg terselip. Oh ya adakah di antara yang mengoleksi kartu perdana tanpa keping terlepas?