
Keterbatasan ruang toko bisa diatasi dengan mezzanine, yaitu loteng separo sebagai tambahan. Di Alfons Salon Mal Pondok Indah II, ruang baru yang atapnya langsung berupa dak itu menjadi ruang potong. Di Office2000 Mal Pondok Indah I, loteng baru menjadi storage — mungkin tanpa AC. Di ITC Mangga Dua beberapa toko sepatu juga menempuh solusi yang sama untuk menyimpan barang.


Untuk sejoli, bertema raja dan ratu kartu remi. Tetap bisa dipakai setelah hari kasih sayang lewat.

Banner di Dapur Cokelat Jalan Ahmad Dahlan sering berganti. Kali ini tentang Imlek. Cokelatnya, tepatnya kue cokelatnya, besar sekali. Haiya… tidak jadi soal, ini soal prosperity bukan?

Di Jakarta masih ada toko-toko bergaya lama, mirip di kota-kota kawedanan (uh, emang masih ada kawedanan?). Misalnya toko besi di Mayestik ini: masih menggunakan rak kayu jati. Di Jalan Sabang juga masih ada beberapa toko bergaya klasik.



Disebut signage darurat juga bukan, karena setiap hari dipasang di pelataran. Barangkali sentuhan manual memang cocok untuk para eksekutif.

Ini dia salah satu jajanan yang lagi digemari anak-anak. Ada bonus mainan, berupa mobil-mobilan Magic Kinder bikinan India. Dikemas sebagai telur siap belah, harga cemilan impor KinderJoy yang berisi cokelat dan susu ini Rp 10.000 sampai Rp 11.000. Tidak cocok untuk anak tiga tahun ke bawah. Lantas orangtua akan menanya anaknya, “Kamu ini mau makanannya atau mainannya?” Tapi orang-orang dewasa yang menjadi pemasar mengatakan, “Memang nggak gampang jadi ortu. Makanya kudu pintar dan bijak, jangan cuma nyalahin industri.” Sejarah selalu berulang.

