Katakan dengan Amplop, Sayang

Musim resepsi setelah Lebaran. Sudah jamak soal ginian. Tak perlu lagi pakai kalimat imbauan. Cukup pakai pendekatan ikonik. Lagi pula lebih praktis menyumbangkan uang kepada mempelai (dan mertuanya). Praktis bagi pemberi maupun penerima.
Kota-kota besar memulai ini selewat pertengahan 80-an, dan sempat bikin kagok. Orang Semarang dan sekitarnya menyebut “(n)jagong” (Jawa: datang ke perhelatan) sebagai “nyumbang”. Lebih realistis kan?
Saya tahu permintaan sumbangan uang pada tahun 70-an, dari undangan pengantin bule. Di situ ada nomor rekening salah satu mempelai. Bukan rekening orangtuanya. ![]()


November 11th, 2007 at 9:57 am
hadiah perkawinan saya belasan tahun yang lalu itu, sebagian masih menumpuk di gudang
November 11th, 2007 at 4:41 pm
gambar amplop itu maksudnya silakan kirim via email
November 12th, 2007 at 11:56 am
Saya belum menikah, dan nggak pernah ngerti kenapa harus ada amplop dalam resepsi.
Pikiran saya, bukankan resepsi memang untuk memberi makan? Lantas kenapa harus “bayar”?
November 17th, 2007 at 3:03 pm
diamput! wong endonesia memang bermental kere, opo opo duit. njelehi tenan.