
Musim resepsi setelah Lebaran. Sudah jamak soal ginian. Tak perlu lagi pakai kalimat imbauan. Cukup pakai pendekatan ikonik. Lagi pula lebih praktis menyumbangkan uang kepada mempelai (dan mertuanya). Praktis bagi pemberi maupun penerima.
Kota-kota besar memulai ini selewat pertengahan 80-an, dan sempat bikin kagok. Orang Semarang dan sekitarnya menyebut “(n)jagong” (Jawa: datang ke perhelatan) sebagai “nyumbang”. Lebih realistis kan?
Saya tahu permintaan sumbangan uang pada tahun 70-an, dari undangan pengantin bule. Di situ ada nomor rekening salah satu mempelai. Bukan rekening orangtuanya.
4 Comments
hadiah perkawinan saya belasan tahun yang lalu itu, sebagian masih menumpuk di gudang
gambar amplop itu maksudnya silakan kirim via email
Saya belum menikah, dan nggak pernah ngerti kenapa harus ada amplop dalam resepsi.
Pikiran saya, bukankan resepsi memang untuk memberi makan? Lantas kenapa harus “bayar”?
diamput! wong endonesia memang bermental kere, opo opo duit. njelehi tenan.
One Trackback
[...] saya melihat ada satu benang merah dari pola ngeblog beliau. Coba lihat contoh posting yang ini, ini, dan ini atau yang ini atau keliling sendiri lah di blognya. Apa pola yang terlihat? Saya sih [...]