2007
Ayam Kampus

Kapan istilah “ayam kampus” muncul? Tahun 80-an? Ternyata istilah itu, meskipun sering dicap basi, masih bertahan. Saya melihatnya sebagai jejak stencil art di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Kapan istilah “ayam kampus” muncul? Tahun 80-an? Ternyata istilah itu, meskipun sering dicap basi, masih bertahan. Saya melihatnya sebagai jejak stencil art di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Dari sepeda pengangkut berbayar itulah muncul istilah ojek. Sebelum sepeda motor muncul, ojek di sekitar pelabuhan adalah sepeda. Di kawasan Kota ojek asli ini masih bertahan. Ongkos terdekat, sekitar satu kilometer, Rp 5.000. Ketika kemacetan menjadi-jadi, pengojeknya akan kerepotan kalau harus menurunkan kaki untuk menyangga sepeda yang terpaksa berhenti. Sepuluh tahun yang lalu, ojek sepeda juga ada di sekitar Kota BNI (BNI City Complex), Jalan Jenderal Sudirman.

Judul di atas adalah komentar seorang nyonya ketika melintasi kantor Partai Demokrasi Pembaruan di Jakarta Selatan. Bagi saya memang ruwet. Apa nggak ada desain lain yang bisa mewakili spirit partai?

Fraksi PDIP pasang iklan dua halaman di Kompas hari ini. Isinya laporan kepada rakyat, yang mencakup 21 masalah. Nama setiap juru bicara disertai nomor ponsel masing-masing — tapi belum saya coba mengontaknya (lha buat apa?). Yang menarik dalam situsnya, adalah polling yang menggunakan kata “semangkin”.


Kalau letak kantong di bagian depan, maka si pemakai menjadi kanguru. Ide bagus sih. Tapi ketika pakai jins berpinggang superrendah, dan membungkuk, apakah bekal dari rumah akan tampak dari luar, lantas orang lain akan menafsirkannya sebagai undangan? Tanyakan ke ahlinya, eh pembuatnya.

Adakah batas usia seseorang untuk berkegiatan di alam maya? Pak Suhirman Djirman (Desember nanti berusia 65), ayahnya Bril, membuktikannya. Sepuh, masih gagah, banyak kegiatan, dan selalu berbagi pencerahan, baik di dunia nyata mapun web.
© Foto: Suhirman Djirman

Sudah lumrah. Memang begitu adanya. Sayang fotonya kurang menarik.
Kenapa ya Pameran IKAPI nggak pernah menyediakan SPG kayak di pameran otomotif dan elektronik?


Ini lho, blog keponakan saya, Anubis Chan, adiknya Tito, menjajikan hadiah. Mbok disebut apa hadiahnya gitu lho, Le. ![]()

Musim resepsi setelah Lebaran. Sudah jamak soal ginian. Tak perlu lagi pakai kalimat imbauan. Cukup pakai pendekatan ikonik. Lagi pula lebih praktis menyumbangkan uang kepada mempelai (dan mertuanya). Praktis bagi pemberi maupun penerima.
Kota-kota besar memulai ini selewat pertengahan 80-an, dan sempat bikin kagok. Orang Semarang dan sekitarnya menyebut “(n)jagong” (Jawa: datang ke perhelatan) sebagai “nyumbang”. Lebih realistis kan?
Saya tahu permintaan sumbangan uang pada tahun 70-an, dari undangan pengantin bule. Di situ ada nomor rekening salah satu mempelai. Bukan rekening orangtuanya. ![]()

Kalau pinjam istilah Ndoro Sugih Mblegedhu Seneng Ngenyekleliyan, maka kita bisa menerka bekas gubernur DKI ini pasti punya duit meteran dalam banyak rol. Dia pasang iklan display di Kompas ukuran 4 kolom (lebar) x 270 mm (tinggi). Untuk kelas Klasika (classified ads) saja tarifnya Rp 65.500 per milimeter kolom. Duit segitu bisa buat nraktir teman-teman seangkatan lho Bos Yos!