Kenapa mobil angkot ini nggak sekalian melengkapi diri dengan dengan pelat nomor hitam (tulisan putih) dan pelat putih (tulisan merah)? Mungkin karena cuma pakai dua pelat, polisi mendiamkan saja.
© Foto: Dayinta Sekar Pinasthika
This entry was written by Antyo, posted on December 31, 2007 at 02:26.
Filed under Perjalanan.
Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
hahaaa asik! cekatan, tangkas, bakat motretnya nurun dari bapak
Apa karena nomornya 234 jd polisi diem ajah? Jadi inget kalo di Jakarta yg punya beberapa nomor 234 itu keluarga “mafia”
polisi malas menilang angkot kali paman.. ntar alasannya apa kalo ditilang kebanyakan pelat kali ya hehehe..
Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
Hanya sebuah memo. Tak penting, tapi boleh dibaca. Kenapa? http://www.formspring.me/antyo
“[...] Menurut saya buat musik prog kudu lebih menekankan komposisi, makanya ada porsi 85% (mayoritas)…”(Membangun Top Prog Albums) — Gatot Widayanto, menanggapi komentar, 10 Februari 2010
“[...] Menurut saya buat musik prog kudu lebih menekankan komposisi, makanya ada porsi 85% (mayoritas)…”(Membangun Top Prog Albums)
• JEPRETAN LANS. Lans Brahmantyo, desainer grafis, fotografer, dan penerbit buku itu punya galeri potret. Keren!
• NICE TRY, NICE TRAY. Ini salah satu blog keren Indonesia. Gambar berbicara karena ditafsir.
•TENTANG JALAN RAYA Semprul betul blognya LekDjie ini. Hidup konten lokal orisinal -- kalau semuanya lokal. :)
3 Comments
hahaaa asik! cekatan, tangkas, bakat motretnya nurun dari bapak
Apa karena nomornya 234 jd polisi diem ajah?
Jadi inget kalo di Jakarta yg punya beberapa nomor 234 itu keluarga “mafia”
polisi malas menilang angkot kali paman.. ntar alasannya apa kalo ditilang kebanyakan pelat kali ya hehehe..