Head to Head
Head on. Adu endhas nganti pecah, kata orang Jawa. Misalkan ada betulan, bagaimana dengan tata krama periklanan?

Sumber: Pramudya Dewa Ganteng
16 Responses to Head to Head
Leave a Reply Cancel reply
Random Posts
Sandal Kere
08/10/2007Lha buat apa beli mahal-mahal kalau cuma sandal bandhol kayak gini? Dulu Pak Penjualarang, entah orang Bringin entah Kedungjati, langganan ibuku, juga pakai ginian.
Recent Comments
adhi
» Sekedar informasi, di sebuah pohon leses yang terletak di kota Boyolali, terdapat sebuah lokasi yang kerap didatangi mereka-mereka yang sedang mencari pesugihan. Tepatnyalah di desa terpencil. Salah satu “menu” pesugihan di...
ichal
» Saya jual jipang/bipang (terbuat dr beras) dan brondong (terbuat dari jagung), silahkan di order jikalau berminat. Harga per pack 8,000 rupiah (isi 10 biji) berminat bisa hub saya di no : 0852.5878.4002 Lokasi saya di Surabaya Bagi...
raditya
» di ralat gan itu bukan 600cc tapi 900cc,, yamaha xj900p
maulana
» saudara2ku kita tetap waspada, meski situs pesugihan islami al ghoniyyu di kaltim dan yayasan rumah dakwah alfatihah di aceh itu sdh diblokir, tapi jangan lengah karena mereka bisa ber-ganti2 nama, tapi orangnya itu2 juga atau...
maulana
» Tadinya saya juga mau transfer ke yayasan al ghoniyyu, tapi saya sdh cek sendiri langsung keberadaan alamat yayasan tsb di jl raya bontang km.17 gang dewandaru desa sangkima lama sangatta, ternyata hanya hutan belantara alias fiktif....
Totot
» Ini kan memang negara tanpa pemerintah. Jadi setiap orang harus bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri, dengan biaya dari kantungnya sendiri. Beruntunglah mereka yang duitnya berlimpah.
mpokb
» Hehe, kayak kopitiam itu ya.. Hiks.
mpokb
» Kita ini bangsa ceroboh, kreatif, pengambil risiko tinggi atau adaptif sih? :D
mpokb
» Solusi murmer, di gambar proyek mestinya nggak ada ya :D Btw, kayaknya saya kenal sama yang di foto dah :D
mpokb
» Duh… *speechless lihat terjemahan dan font-nya*












kalo misalnya betulan ada…seru…!!!
[...] operator melalui iklan semakin gila-gilaan. Saling sindir, saling ledek, saling menjatuhkan. Nggak beda dari percekcokan antartetangga. Sehalaman koran dipakai untuk iklan [...]
[...] perang operator kian ramai — bahkan bisa agak kasar. Masing-masing mengklaim diri sebagai yang termurah dalam memungut ongkos bicara melalui ponsel. [...]
Ini mah sudah bikin polusi mata. Orang enggak memperhatikan rambu-rambu lalin malah lebih konsen di iklan.
wes perang2 o kono, aku sing untung. bener mimi, paling murah pake fren hahahaha
Betulan tu..
Asli ada dimedan tu iklan, deket lap.merdeka & stasiun kereta..
Kemedan dong biar liat secara langsung iklannya..
Salam kenal yah..
Sebenarnya ndak masalah,paman. Wong gak bikin rusuh kok. Perang iklan itu mungkin bisa rusuh kalau ditaruh di lapangan sepakbalan.
@mas hedi : dispenda cuma ngawasin iklan itu udah bayar apa belom, masalah isinya ga ngurusin :P
yang heran, kok pemda (atau dispenda?) memberi izin, kan harusnya mereka menjadi pengawas etika kompetisi tho?
paling murah pake fren,
eh fren, pinjem henfon sebentar fren, lagi fakir pulsa nih fren… boleh ya fren? kita kan best fren ;)
hehe, embuh kuwi…tukang masang iklane xl pasti muring muring…tapi yo ben lah…cuman yo kuwi wajah kota jadi jelek poll, banyak papan iklan…
waaa…apakah setelah ini perlu adanya sensor iklan??? hikikikiki…
semua sepakat kalau tarif para operator selular itu membingungkan dan njlimet kalau gak baca “ketentuan berlaku” :P
hehehehe.. kreatif, tapi etis kah?
ya seperti perang profesi salon nya paman tyo , jual bakmi ala pakdhe mbilung dan konter pulsa milik ndoro kakung :D
gilaa… perang tarif udah sampe kyk gini.. hihihi..