Head on. Adu endhas nganti pecah, kata orang Jawa. Misalkan ada betulan, bagaimana dengan tata krama periklanan?

Sumber: Pramudya Dewa Ganteng
Head on. Adu endhas nganti pecah, kata orang Jawa. Misalkan ada betulan, bagaimana dengan tata krama periklanan?

Sumber: Pramudya Dewa Ganteng
This entry was written by Antyo, posted on February 15, 2008 at 03:03.
Filed under Bisnis, Desain, Hiburan, Silaturahmi.
Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
Hanya sebuah memo. Tak penting, tapi boleh dibaca. Kenapa?
![]()
• NICE TRY, NICE TRAY. Ini salah satu blog keren Indonesia. Gambar berbicara karena ditafsir.
• MABUK BAHASA! Satu lagi blog menarik, tentang bahasa, di tengah karut marut bahasa blog(ger). Mari bermabuk-mabukan!•TENTANG JALAN RAYA Semprul betul blognya LekDjie ini. Hidup konten lokal orisinal -- kalau semuanya lokal. :)
14 Comments
gilaa… perang tarif udah sampe kyk gini.. hihihi..
ya seperti perang profesi salon nya paman tyo , jual bakmi ala pakdhe mbilung dan konter pulsa milik ndoro kakung
hehehehe.. kreatif, tapi etis kah?
semua sepakat kalau tarif para operator selular itu membingungkan dan njlimet kalau gak baca “ketentuan berlaku”
waaa…apakah setelah ini perlu adanya sensor iklan??? hikikikiki…
hehe, embuh kuwi…tukang masang iklane xl pasti muring muring…tapi yo ben lah…cuman yo kuwi wajah kota jadi jelek poll, banyak papan iklan…
paling murah pake fren,
eh fren, pinjem henfon sebentar fren, lagi fakir pulsa nih fren… boleh ya fren? kita kan best fren
yang heran, kok pemda (atau dispenda?) memberi izin, kan harusnya mereka menjadi pengawas etika kompetisi tho?
@mas hedi : dispenda cuma ngawasin iklan itu udah bayar apa belom, masalah isinya ga ngurusin
Sebenarnya ndak masalah,paman. Wong gak bikin rusuh kok. Perang iklan itu mungkin bisa rusuh kalau ditaruh di lapangan sepakbalan.
Betulan tu..
Asli ada dimedan tu iklan, deket lap.merdeka & stasiun kereta..
Kemedan dong biar liat secara langsung iklannya..
Salam kenal yah..
wes perang2 o kono, aku sing untung. bener mimi, paling murah pake fren hahahaha
Ini mah sudah bikin polusi mata. Orang enggak memperhatikan rambu-rambu lalin malah lebih konsen di iklan.
kalo misalnya betulan ada…seru…!!!
2 Trackbacks
[...] perang operator kian ramai — bahkan bisa agak kasar. Masing-masing mengklaim diri sebagai yang termurah dalam memungut ongkos bicara melalui ponsel. [...]
[...] operator melalui iklan semakin gila-gilaan. Saling sindir, saling ledek, saling menjatuhkan. Nggak beda dari percekcokan antartetangga. Sehalaman koran dipakai untuk iklan [...]