Memo (Terbuka) untuk Roy Suryo
Hi Dear Roy,
Banyak sudah kehebohan kerena pernyataan Anda, Roy. Tak apa, hak setiap orang untuk berbicara dan berargumentasi, kalau perlu bersilang pendapat. Itu hak Anda, hak masyarakat, dan hak siapa pun — termasuk bloggers.
Juga hak Anda Roy untuk meluruskan apa yang menurut Anda bengkok karena media salah kutip, salah tangkap, atau salah melulu. Tak apa, Kawan.
Nah izinkanlah di sini, sebagai teman yang awam, saya membayangkan jadi Anda. Misalkan saya jadi Anda, padahal saya paham internet, bahkan saya termasuk early adopter, maka saya akan membuat blog.
Mungkin isinya tak perlu saya update setiap hari karena ngeblog itu kadang tak penting tapi untuk menulisinya — apalagi membacanya (bagi orang lain) — butuh energi dan kesempatan.
Justru karena itulah, masih dalam pengandaian saya ketika menjadi Anda, maka blog Roy Suryo bisa berisi hal penting — bukan asal bercerita menggombal ngalor-ngidul — yang akurasinya di atas 68 persen.
Di situ saya bisa memaparkan penjelasan. Bisa juga membuat prediksi dan analisis secara utuh. Tiada yang terpotong, tertambahi, maupun terpelintir. Saya menjadi penulis sekaligus penyunting dan bahkan penerbit. Saya rasa akan tampak sok dan berlebihan kalau saya bilang kepada Anda, “Itulah kelebihan online personal publishing.”
Lantas apakah pemanfaatan situs pribadi berisi jurnal macam itu berarti jaminan segalanya akan mulus dan beres?
Sayang sekali saya hanya orang awam. Saya hanya pengguna komputer biasa. Tentang internet, saya hanyalah pengguna umum. Perihal kepelikan multimedia, apalagi keamanan jaringan, saya sama sekali tak paham. Telematika? Dulu saya pikir itu urusan anak-anak, bertukar jawaban PR matematika via telepon.
Kembali kepada pertanyaan sebelumnya, yang saya ubah isinya: apakah dengan situs pribadi berisi jurnal pribadi maka segalanya akan lancar?
Tampaknya tidak. Persoalannya bukan hanya pada internet dan web sebagai alat. Persoalannya ada pada kemauan mendengar dan berdialog. Web, atau sebut saja terus terang sebagai blog, hanyalah alat bantu dokumentasi pribadi beranah publik dan sarana pendukung komunikasi antarmanusia.
Mendengarkan banyak pihak, menjelaskan ke semua orang, memang melelahkan, Roy. Tentu tak semuanya melalui cara langsung. Itu tak mungkin. Dengan web — maksud saya blog — persoalan akan lebih mudah, apalagi jika disertai kesediaan untuk berlapang dada saat menerima saran dan koreksi: tidak keburu (misalnya lho) reaktif defensif, tetapi juga tidak (lagi-lagi misal) cuma menganggap angin lalu.
Begitulah, Kawan. Saya hanya berandai-andai menjadi diri Anda dan menyodorkan misal (bukan mendakwa).
Sekarang, sebagai teman, saya membayangkan sesuatu jernih: Anda ngeblog.
Tak selamanya ngeblog itu aktivitas cengengesan. Tak ada yang salah dengan konsistensi untuk tidak ngeblog karena itu soal pilihan.
Tapi izinkanlah di sini saya bertanya secara o’on: lebih mudah mana mengharapkan media (termasuk blogs) membantu penjelasan Anda atau Anda menjelaskan sendiri melalui media milik sendiri?
Baiklah saya tak akan berpanjang kata lagi, Roy. Pertanyaan saya itu pasti jadi bahan tertawaan. Yah, saya hanya blogger gombal. Tidak hina dina amat tapi juga bukan johan perwira bermartabat mulia.
Salam blog,
Tyo


March 31st, 2008 at 10:56 pm
wakakakaka….
keren sekali. dan menohok, paman
btw, dulu saya malah lebih o’on, salah menafsirkan telematika dengan NONTON TELEVISI SAMBIL BELAJAR MATEMATIKA.
owalah, betapa bodohnya saya ini, mas Roy..eh maksud saya, Paman
**kepingkel2 sampe mules kayak kemaren**
March 31st, 2008 at 11:13 pm
wah, kata-kata paman tepat sekali. saya harap ybs mau membaca dan kemudian membumi bersama kita2 untuk membagi ilmu pengetahuannya. blog bukan eksklusif.
April 1st, 2008 at 3:25 am
wah, kalau saja semua blogger punya cara bertutur seperti njenengan, pak… om roy ndak perlu ‘empet’ sama blogger.
eh, tapi kalo om roy bisa menjaga cara bertuturnya, blogger juga ndak perlu ‘empet’ sama om roy.
lha terus? duluan mana telur sama ayam? halah…
April 1st, 2008 at 7:44 am
Wah, ya ndak bisa paman. lha pak roy suryo kan sudah terlanjur berkata tidak akan ngeblog selamanya dalam kondisi apapun. kalau dia ngeblog, dia akan menjilat ludah sendiri.
April 1st, 2008 at 8:45 am
ah paman, njenengan memang pantes banget jadi suri tauladan kita semua
April 1st, 2008 at 9:25 am
hekekekekekekekekekeke………..
roy… roy… dengerin dong…
lho… lho… kok malah ngejar2 bola yang dilempar sih roy…
haduh… rebutan tulang pula!
dasar roy bandel!!!
April 1st, 2008 at 9:32 am
hayo siapa yg mau nyetak posting ini lalu mengirimkannya pada yang bersangkutan?
April 1st, 2008 at 4:32 pm
ah, ini habis sayah curhat ituh ya paman?
April 1st, 2008 at 5:19 pm
hayo, sampai sejauh apa roy suryo konsisten untuk tidak jadi penipu, eh, maksud saya tidak jadi blogger. hihihi…
April 2nd, 2008 at 10:38 am
andai aku jadi Tyo..
akan aku cukur gundul kepalaku..
…. khan udah..?!
April 4th, 2008 at 2:35 pm
Paman, Anda termasuk dihormati lo oleh Roy Suryo. Anda juga termasuk dalam kategori blogger positif karena pernah jadi wartawan.
Teman saya anak okezone dapet SMS dari Roy Suryo yang isinya mengharapkan juga tokoh blogger lain hadir seperti Wimar WItoelar, Budi Putra dan Antyo Rentjoko pada acara dialog blogger di Budi Luhur tanggal 18 April
April 18th, 2008 at 7:03 pm
sayangnya roy suryo gak ngeblog. jadi akankah beliau membacanya?