Louis Vuitton Sudwikatmono

Saya kemarin menemukan majalah Femina edisi Natal 1997. Ya, keluaran hampir 11 tahun silam, saat krismon mulai menyengat Indonesia.
Lihatlah cover lines. Tampaknya dari masa-masa ke masa majalah wanita tak bosan membahasnya, termasuk di antaranya adalah bagaimana menyatakan cinta kepada pria.
Adapun pada halaman profil, saya mendapatkan jawaban terhadap keheranan lama saya. Dulu saya ora mudheng kenapa konglomerat sekelas Pak Dwi masih menjejer koper-koper Louis Vuitton (tentu asli) di galeri belakang rumahnya. Ternyata itu adalah balas dendam terhadap masa lalu.
Suatu hal yang manusiawi. Sebagian dari kita juga begitu. Mengonsumsi sesuatu (secara berlebihan) karena luka di hati.



April 29th, 2008 at 9:00 am
Apakah sama dengan membelikan anak buku (nyaris) apapun yang dia minta?
April 29th, 2008 at 10:38 am
yg asli mereknya, kalo barangnya sih buatan pekerja bertenaga murah, rajin dan teliti dari negara2 asia tenggara atau amerika latin

btw, luka di hati? kupi dan cokelat obatnya. shall we ngupi, bang pam?
April 29th, 2008 at 11:24 am
weh, sampeyan menjejerkan apa di halaman belakang paman?
April 29th, 2008 at 11:25 am
eh, si paman sudah bosen ya mbaca iklan baris yg lucu lucu itu, hihihi
April 29th, 2008 at 3:16 pm
khasiat ‘jamu waktu’ memang dahsyat dan hebat! Setelah minum jamu daripada ngeblog itu, dalam sehari paman posting empat tulisan, mulai dari soal rubik sampai soal (masa lalu) Pak Dwi.
April 29th, 2008 at 7:55 pm
mengumpulkan duit secara berlebih-lebihan juga termasuk gak pakdhe ?
April 29th, 2008 at 11:08 pm
saya ngumpulin banyak credit card, gara-gara dulu pernah ditolak nginep di hotel karena uang ngepas dan tidak punya credit card
April 29th, 2008 at 11:28 pm
saya sampek sekarang masih menjejerkan stiker, apapun model, bentuk dan tulisannya
April 30th, 2008 at 12:58 am
he he saya habis main badminton sama mantunya..Ntar saya tanya deh, mintain dong satu koper saja..