2008
Kacamata buat Blogger…
Iya, kacamata gelap multiguna buat blogger yang suka lirak-lirik dan memotret diam-diam (eh sambil goyang kepala karena ada MP3 player), kemudian jadi posting. :D Ada sedia di Jakarta.

Iya, kacamata gelap multiguna buat blogger yang suka lirak-lirik dan memotret diam-diam (eh sambil goyang kepala karena ada MP3 player), kemudian jadi posting. :D Ada sedia di Jakarta.

Lama saya tidak buka Plaxo. Kedua foto saya tidak pernah saya ganti. Itu foto lawas banget, malah satunya produksi tahun 2000 (bukan yang ada di contoh), awal saya berplaxo. Ternyata Plaxo sekarang sudah dilengkapi ini dan itu yang mengarah ke jejaring sosial — atau mungkin sejak dulu ada tapi tak peduli. Saya menggunakan Plaxo untuk mem-backup address book di Outlook dan urusan online-nya cuma sinkronisasi, bukan ke webnya.
Terbukti selama ini Plaxo bermanfaat ketika meng-install atau reinstall mail client baru. Plaxo itu pemain lama tapi kurang popular dan kayaknya nggak cepat berkembang. Mungkin kurang funky, kurang berkesan gaul.

JVC punya micro Hi-Fi dengan spiker bergendang kayu. Audioengine punya bookshlef speakers berbodi bambu. Harga Amrik $ 449. Tertarik?


Pada abad lalu istilah kuli tinta cukup dikenal, malah kalau tak salah disebut oleh sebuah lirik lagu. Tak jelas bagi saya, tinta yang dimaksud itu tinta bolpen atau tinta percetakan. Kemudian mulai pertengahan 1980-an redaksi media cetak memakai komputer dan disket. Mungkin biar tampak keren, beberapa reporter menyebut diri kuli disket. Abad ini, tepatnya Selasa 29 Juli 2008, Koran Tempo masih menggunakan istilah kuli disket. Salah satu editor koran itu, seorang blogger, bisa bekerja di mana saja dengan laptopnya, memanfaatkan jaringan nirkabel dan internet. Mungkin di ranselnya selain ada USB flash disk juga ada floppy disk.
Satu lagi boneka yang menemani Barbie. Boneka muslimah ini bernama Arrosa.

Barang siapa mengenal orang ini harap memberitahu saya. Terima jadi.

Maaf ya, kenapa tampilan Bisnis Indonesia Minggu nggak pernah memuaskan? Padahal membawa slogan “business lifestyle” lho…

Seberapa sering Anda tergoda oleh beginian? Mulaya tidak butuh tapi setelah melihat “keuntungan dadakan” lantas beli, dengan alasan pembenar, “Iseng aja, sekali-sekali…”

Boleh juga ide si tukang cetak ini. Kalau kartu nama habis maka dasar kotak akan menampilkan pengingat. Intinya: kembalilah, dan pesanlah lagi. Tapi harus bayar.

Entah bagaimana hasil survei FHM Indonesia. Semoga tak ada responden pria mengaku sebagai wanita — atau sebaliknya.
