Apa sih yang dicari manusia dengan membuat menara setinggi mungkin? Hanya uji pencapaian konstruktif? Misalnya Burj di Dubai yang setinggi 818 meter itu. Ketika helikopter, pesawat terbang, dan kendaraan terbang lain sudah tersedia, begitu pun terjun payung tandem, masih perlukah hasrat bertinggi-tinggi untuk menaklukkan (atau berakrab-akrab dengan) akrofobia itu? Ketika menipisnya ruang terbuka belum menjadi alasan, apakah menara tinggi sudah perlu?
Sejarah selalu mencatat upaya manusia untuk membuat konstruksi yang tinggi, bahkan tertinggi, pada zamannya. Padahal belum tentu fungsional. Sebagai tetenger (landmark) pun sosok konstruksi tinggi akhirnya mengandalkan persepsi manusia, tepatnya konstruksi di benak, bukan semata penampakan yang nyata secara visual. Nyatanya Monas tak terlihat dari semua sudut Jakarta karena cityscape yang terus berubah.
Video ini menarik justru karena “amatir secara filmis” tapi nyata. Dia juga bukan sebuah simulasi citra trimatra.
7 Comments
ahhhh miris miris
jangan dibangun di sini lah!banyak orang sterss,la wong menara sutet saja banyak yg jadi arena panjat dinding dan lompat bebas…
monas sebenernya konsep bagus, tapi sayang…gedung dan jalan tol menutupinya (karena keliru urus), bahkan stasiun gambir pun sudah setinggi dia
dorongan keingintahuan dan naluri untuk menjadi yang “ter”, Bang Paman? hehe, kalo saya punya duit, pingin juga naik dan merasakan gimana berdiri di gedung setinggi itu..
—
Coba aja Mpok…
/tyo/
saya kok ndak bisa nongton videone ya?
aku ngeliat videonya aja gemeter, apalagi kalo pas di atas sono..
—
Iya je. Aku “semingunen”, padahal cuma ngeliat video.
/tyo/
sensasi akan ketinggian, Babel era modern?

—
Yup. Makanya saya masukin ke tag.
/tyo/