Kalau bicara selfish, uhhh… jangankan Twitter, blog pun (termasuk memo) bisa menye-menye, atau cuma jadi saluran pamer, cari perhatian, dan pengin tetap “eksis”. Tapi buat saya tidak. Lihat saja status Snydez pagi tadi: informatif dan bermanfaat. Begitu pula status teman-teman lain. Tidak selamanya ngetweet cuma “texting something yang gak penting”. Itulah uniknya personal contents dalam media-dan-jejaring sosial. Penting gak penting itu bergantung pada konteks, termasuk di dalamnya interes dan relasi sosial penggunanya.


5 Comments
kalo saia sih penting
Soalnya sinkron sama status facebook
Update twitter berarti sekalian update facebook
______________________________________________
Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/
hehe. tapi kalo mau itung-itungan, semuanya tergantung mood
secara itungan kasar sih, 50% tweet saya itu keluhan
saya malah gak pernah update status
kalau mau saat weekend saja, saya berpikir sapa yg perduli sama saya, gonta ganti status yg ndak jelas tiap saat pula
Aku menganggap Tweet sebagai tempat memperluas kabar, sesuai kodrat awalnya, makanya aku males input aktivitas pribadi. Itu sebabnya dulu aku juga twit dgn bahasa jerman untuk menyebarluaskan Indonesia
tweet dibuat menye-menye sebab pengunjung ingin tweet yang “tak berat”