Sopir Santai?

Orang Jawa bilang “wang-sinawang”. Kehidupan orang lain tampak lebih menyenangkan. Misalkan saya sopir angkot mungkin juga akan menganggap pekerjaan sopir bus bandara ini kepenak. Hanya mengantar penumpang dari terminal ke tangga pesawat. Rutenya pendek. Tak perlu kejar setoran. Tak ada Pak Polantas penguntip setoran. Tak ada preman dan timer yang minta duit rokok. Tapi tidak bisa menikmati adrenalin dengan kebut-kebutan sampai hampir selalu mencelakai pengguna jalan.

  • Share/Bookmark

6 Comments

  1. Posted November 30, 2009 at 05:44 | Permalink

    “wang-sinawang” hahaha sayapun nyawang paman kok spertinya enak banget kerjaan ngeblog terus cuma duit meteran

  2. Posted November 30, 2009 at 08:05 | Permalink

    @geblek: duit meteran itu sudah masa lalu. sekarang? unlimited dong…

  3. paman tyo
    Posted November 30, 2009 at 08:09 | Permalink

    @Geblek dan @Ipoul ngajak gelut orang tua ya? Gak tau malu. Huh! :D

  4. Posted November 30, 2009 at 08:10 | Permalink

    @bangsari: pasti yg pasca bayar…

  5. Posted November 30, 2009 at 10:21 | Permalink

    kalo lagi nggak nyetir, ngapain aja ya pak sopir?

    Mungkin ngeblog, Mpok.
    /tyo/

  6. Posted December 1, 2009 at 06:42 | Permalink

    aku dah pernah tanya sama supir di bandara itu, dia bosen. “Saya 8 jam cuma mondar mandir di sini aja, jenuh.” hehehe

    Nah iya kan? Padahal kayaknya gak seberat sopir angkot lho…
    /tyo/

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*
Copyright © 2007 memo. All rights reserved.