Inilah yang diidamkan oleh dotcomers lokal, seperti yang pernah dilontarkan oleh Danny dari Kaskus dalam diskusi Citra Pariwara 2009: pemain lokal mestinya dijual karena dikenal. Saat itu Danny mengritik iklan-iklan ponsel yang memamerkan fitur Twitter dan Facebook. Bravo Kaskus! Sebuah cerita dari rumah karaoke di Makassar.


4 Comments
nice one. dulu saya juga bercita2 spt itu. sayang kandas ditengah jalan
Besok bikin kafe berfitur memo atau blogsemprul,dab! ah…hidup konten lokal..!
Itulah orang kita, Paman. Lebih senang dan keren memakai apapun yang berbau asing daripada yang lokal milik bangsa sendiri. Makanya dulu di era ORBA, jamannya menteri Harmoko kalau nggak salah, semua penamaan asing harus diindonesiakan.
tapi Kaskus juga “agak salah” karena menggunakan tagging berbahasa Inggris