Tunggulah sampai jamnya datang — dan semoga berfungsi. Sebuah cerita dari Yogya.

This entry was written by Antyo, posted on December 21, 2009 at 23:33.
Filed under Desain, Perjalanan and tagged jam dinding, ngejaman baru, yogya.
Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Hanya sebuah memo. Tak penting, tapi boleh dibaca. Kenapa?
![]()
“Tujuh huruf nama asli saya, lantas menjadi tak terlalu penting. Kalah dengan 13 karakter (termasuk spasi :p) yang telah branded! Hahaha…”
— Blontank Poer, pepundhèn blogger Solo, 20 Februari 2010
(Surakarta atau Solo)
• JEPRETAN LANS. Lans Brahmantyo, desainer grafis, fotografer, dan penerbit buku itu punya galeri potret. Keren!
• NICE TRY, NICE TRAY. Ini salah satu blog keren Indonesia. Gambar berbicara karena ditafsir.
• MABUK BAHASA! Satu lagi blog menarik, tentang bahasa, di tengah karut marut bahasa blog(ger). Mari bermabuk-mabukan!•TENTANG JALAN RAYA Semprul betul blognya LekDjie ini. Hidup konten lokal orisinal -- kalau semuanya lokal. :)
5 Comments
seingetku, sebelum aku pindah ke jakarta, jam itu masih ada. apalagi di depannya dijaga oleh “Pak Wibawa”
jangan2 dibawa sama zam ke jakarta
pernah diperbaiki berkali-kali Paman, batereinya aus kali
dulunya pake jam yang mahal, otomatis, kinetik. tapi selalu mati, karena lebih dari 48 jam tidak dipakai di pergelangan tangan..
sekarang yg ngetren malah jam digital segede gaban — itu karena lebih mudah merawatnya, cuma modal listrik dan ahli elektronik