Becak Sala

Berapa banyak orang Surakarta atau Solo, kota berslogan “the spirit of Java”, yang masih bisa membaca tulisan beraksara Jawa ini? :) Tak kurang-kurangnya sekolah mengajarkan aksara Jawa sebagai muatan lokal. Tapi saya sebagai orang Jawa yang “nanggung”, jujur saja tak dapat menulis-baca aksara hanacaraka. :D

14 Responses to Becak Sala
Leave a Reply Cancel reply
Random Posts
Parkour dan Media Arus Utama
05/04/2010Publikasi parkour berjalan melalui media sosial. Mainstream media seperti menganggap sebelah mata, karena setahu saya jarang menangkapnya. Padahal untuk eksplorasi fotografis ini menantang, begitu pula untuk features. Tapi berapa banyak media umum yang peduli dengan pemanjatan atap Stadion Utama Gelora Bung Karno, Maret lalu?
© Foto: karya Inno, salah satu traceur, yang [...]
Recent Comments
adhi
» Sekedar informasi, di sebuah pohon leses yang terletak di kota Boyolali, terdapat sebuah lokasi yang kerap didatangi mereka-mereka yang sedang mencari pesugihan. Tepatnyalah di desa terpencil. Salah satu “menu” pesugihan di...
ichal
» Saya jual jipang/bipang (terbuat dr beras) dan brondong (terbuat dari jagung), silahkan di order jikalau berminat. Harga per pack 8,000 rupiah (isi 10 biji) berminat bisa hub saya di no : 0852.5878.4002 Lokasi saya di Surabaya Bagi...
raditya
» di ralat gan itu bukan 600cc tapi 900cc,, yamaha xj900p
maulana
» saudara2ku kita tetap waspada, meski situs pesugihan islami al ghoniyyu di kaltim dan yayasan rumah dakwah alfatihah di aceh itu sdh diblokir, tapi jangan lengah karena mereka bisa ber-ganti2 nama, tapi orangnya itu2 juga atau...
maulana
» Tadinya saya juga mau transfer ke yayasan al ghoniyyu, tapi saya sdh cek sendiri langsung keberadaan alamat yayasan tsb di jl raya bontang km.17 gang dewandaru desa sangkima lama sangatta, ternyata hanya hutan belantara alias fiktif....
Totot
» Ini kan memang negara tanpa pemerintah. Jadi setiap orang harus bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri, dengan biaya dari kantungnya sendiri. Beruntunglah mereka yang duitnya berlimpah.
mpokb
» Hehe, kayak kopitiam itu ya.. Hiks.
mpokb
» Kita ini bangsa ceroboh, kreatif, pengambil risiko tinggi atau adaptif sih? :D
mpokb
» Solusi murmer, di gambar proyek mestinya nggak ada ya :D Btw, kayaknya saya kenal sama yang di foto dah :D
mpokb
» Duh… *speechless lihat terjemahan dan font-nya*












grothal grathul tapi harus dipaksa biar tak lupa babar blas
itu sd-nya adik saya. sd tp deket pusat perbelanjaan, tata ruang warisan orba yg aneh :D
[...] nama administratif. Solo adalah Jawa lama dan Jawa baru. Jawa lama ada pada semangat revival, mencoba mempertahankan aksara Jawa meskipun nasib aksara Jawa berbeda dari aksara Thailand, Kamboja, Jepang, dan Cina, yang kesemuanya [...]
[...] lama ada pada semangat revival, mencoba mempertahankan aksara Jawa meskipun nasib aksara Jawa berbeda dari aksara Thailand, Kamboja, Jepang, dan Cina, yang kesemuanya [...]
pernah diajari secara intens, termasuk menerjemahkannya dari Indonesia ke Jawa. Tapi dasar saya cuma Jawa Keturunan, ya babar blas :D
opo iku mbah mocone?
saya masih baca-baca Buku Pinter Basa Jawa Pepak
padahal belajarnya nyaris 10 tahun, tetep aja sekarang ilang tak berbekas :P
Saya sebagai orang setengah Jawa (bapak asli Jawa) tidak bisa baca aksara honocoroko karena tidak pernah belajar Bahasa Jawa. Saya tahunya baca aksara hanacaraka versi Bali karena itu yang pernah saya pelajari. :D
masih bisa baca, walau grothal-grathul.. :D
bahkan di Mall pun, namanya harus ditulis dalam huruf jawa juga..
@fahmi: sebuah aksara akan bertahan sepanjang fungsional. setelah itu ya cuma hiasan :)
blasss… wes lupa semua itu yg dulu dipelajari di jaman SD. tapi kalo tulisan arab bisa baca.
.-= fahmi!´s last blog ..Beban berat =-.
@mpokb: Iya, aksara Sunda tak punya “da” (bukan “dha”) dan “tha” (bukan “ta), kan?
semasa SD sih jago, sekarang udah luntur semua. basa sunda kurang dua suku kata dari jawa :)