Branding bukan cuma urusan slogan. Di lapangan mencakup penerapan, dan ini tak gampang, apalagi jika menyangkut koordinasi antarinstansi, dan tentu saja biaya. Dalam bilbornya, Angkasa Pura I Solo sudah menyebut “Solo the Spirit of Java”, tapi tulisan besar pada atap terminal Bandara Adi Sumarmo masih menyebut “The City of Batik”. Orang cengengesan akan berkiah, “Yang kota batik itu bandaranya, bukan Solo-nya. Lihat saja, lha wong ndak ada kata ‘solo’ di sana.”

Share

6 Responses to Solo Kota Batik

  1. Antyo says:

    @Zammy: hahaha, saya tanya beberapa orang memang begitu. ada bagian yang masuk boyolali, negeri pepeng escoret sekarang :D

  2. Matt Zammy says:

    la wong bandara itu masuk ke daerah Kab. Boyolali.. :D

  3. ciwir says:

    sepakat dengan paman Tyo
    :D
    .-= ciwir´s last blog ..tempat nongkrong yang demokratis itu… =-.

  4. [...] Solo adalah batik. Tapi Pekalongan juga kota batik. Keduanya memiliki industri dan pasar. Ya, saya tak bicara desain maupun unsur lainnya. Toh banyak orang tahu Solo bukan hanya keraton, batik tulis, keris, tari, karawitan, dan apapun yang sangat berbeda dari pesisir utara Jawa Tengah. Tentu, makanan Solo tak seterlalu-manis Yogya, kan? ;) [...]

  5. [...] dingin maupun hangatnya sering berbuluh plastik agar cairan melancangi bibir dan ujung lidah. Solo adalah batik. Tapi Pekalongan juga kota batik. Keduanya memiliki industri dan pasar. Ya, saya tak bicara desain [...]

  6. mawi wijna says:

    jadi Airport itu kota? :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Set your Twitter account name in your settings to use the TwitterBar Section.