Celah, Belahan

Untunglah kedua toko yang berbeda ini tak memaksakan bahasa Indonesia. Kalau bicara “belahan di balik kutang”, meskipun benar, bisa-bisa dianggap tak sopan. Lagi pula beda segmen beda ungkapan, kan? Santai sajalah. Yang penting indah. :)

12 Responses to Celah, Belahan
Leave a Reply Cancel reply
Random Posts
Memang Kenthir!
09/11/2007Dari blognya Bang Neng Miund, saya jadi tahu dua blog unik. Yang Siletlidah itu memang kenthir, kocak, orisinal. Layak langgan.
Recent Comments
adhi
» Sekedar informasi, di sebuah pohon leses yang terletak di kota Boyolali, terdapat sebuah lokasi yang kerap didatangi mereka-mereka yang sedang mencari pesugihan. Tepatnyalah di desa terpencil. Salah satu “menu” pesugihan di...
ichal
» Saya jual jipang/bipang (terbuat dr beras) dan brondong (terbuat dari jagung), silahkan di order jikalau berminat. Harga per pack 8,000 rupiah (isi 10 biji) berminat bisa hub saya di no : 0852.5878.4002 Lokasi saya di Surabaya Bagi...
raditya
» di ralat gan itu bukan 600cc tapi 900cc,, yamaha xj900p
maulana
» saudara2ku kita tetap waspada, meski situs pesugihan islami al ghoniyyu di kaltim dan yayasan rumah dakwah alfatihah di aceh itu sdh diblokir, tapi jangan lengah karena mereka bisa ber-ganti2 nama, tapi orangnya itu2 juga atau...
maulana
» Tadinya saya juga mau transfer ke yayasan al ghoniyyu, tapi saya sdh cek sendiri langsung keberadaan alamat yayasan tsb di jl raya bontang km.17 gang dewandaru desa sangkima lama sangatta, ternyata hanya hutan belantara alias fiktif....
Totot
» Ini kan memang negara tanpa pemerintah. Jadi setiap orang harus bertahan hidup dengan caranya sendiri-sendiri, dengan biaya dari kantungnya sendiri. Beruntunglah mereka yang duitnya berlimpah.
mpokb
» Hehe, kayak kopitiam itu ya.. Hiks.
mpokb
» Kita ini bangsa ceroboh, kreatif, pengambil risiko tinggi atau adaptif sih? :D
mpokb
» Solusi murmer, di gambar proyek mestinya nggak ada ya :D Btw, kayaknya saya kenal sama yang di foto dah :D
mpokb
» Duh… *speechless lihat terjemahan dan font-nya*












[...] lama pun bahasa kita tercinta ini masih ‘bolong-bolong’. Salah satu contohnya disinggung dalam posting Paman Tyo yang ini, tentang tiadanya padanan bahasa Indonesia untuk kata [...]
[...] bahasa kita tercinta ini masih ‘bolong-bolong’. Salah satu contohnya disinggung dalam posting Paman Tyo yang ini, tentang tiadanya padanan bahasa Indonesia untuk kata “cleavage“. Dalam Kamus Inggris [...]
kesimpulan ngawurnya: makin sedikit kain yg digunakan, makin mahal! :D
Zammy: Bukan ngawur. Itu benar. :D
Jadi “lurah dada” nggak bisa dipakai, yak..? :D Bahasa Indonesia nggak punya padanan “cleavage”, padahal sebagian busana tradisional perempuan berbentuk kemben.. :D
Mpokb: Ini persoalan menarik. Kita punya kata “payudara”, “buah dada”, dan entah apalagi, terus sejauh ini rasa bahasa kita bisa menangkap mana lontaran vulgar dan mana yang bukan. Kata “mencegah kanker payudara” toh tidak pernah dianggap cabul, demikian pula (terlebih) “ibu menyususi”. Sebagian busana tradisional pun berbentyk kemben, seperti kata Mpok. Wayang kulit dan ilustrasi lain juga tak ada masalah dengan payudara. Tapi anehnya untuk urusan beginian kekayaan ungkapan verbal kita seperti kelu. :) Apalagi sekarang di beberapa tempat ada pertarungan nilai soal “akhlak” berbusana dan tampil… Jadi? Kapan dong Mpok bikin posting soal ginian? :)
waks… orang komentar malah dikasih PR… nanti lah, Bang Paman.. pada suatu hari yang cerah.. :P yang jelas, bahasa Indonesia justru asyik dibicarakan karena ketidakmatangannya :D
Mpokb:
Karena belum matang dan belum tertata maka peluang kita untuk membentuk bahasa Indonesia pun lebih terbuka.
Kutang mahal? Tapi yang lebih mahal isi daleman kutangnya. :D
Joko:
Isi dalemannya? Ganjal, subal, pad. Masa sih lebih mahal? :D
kotang kok regane larang temen…
Blontank: Lha kalo crotchless thong lebih keterlaluan lagi harganya. Margin produsen dan penjual kelewat gede untuk nutupi margin lain yang kecil :D