2008
Persaudaraan Munyuk

Begitulah, ada di saya dan ada di Putra Daerah. Info pendukung di sana. Apakah Anda juga punya? Ayo umumkan. Siapa tahu pabriknya minta dibuatkan blog dengan bayaran sekardus atau sepeti notes cap Kera.

Begitulah, ada di saya dan ada di Putra Daerah. Info pendukung di sana. Apakah Anda juga punya? Ayo umumkan. Siapa tahu pabriknya minta dibuatkan blog dengan bayaran sekardus atau sepeti notes cap Kera.
cm4nk punya dokumentasi tentang Pesta Blogger 2008. Gambar punggung yang berisi pernyataan diri. Menarik!

Apakah ini termasuk porno karena ada buka-bukaan? Apakah ini melanggar UU yang sudah diberlakukan? Sebuah poster komersial di Senayan City, Jakarta.

Mau gegayaan saat mudik? Belilah iPhoney, kembarannya iPhone. Seseorang barusan beli dengan harga Rp 2 jutaan dari seorang blogger. Kemasan, bahkan lembar petunjuknya, sangat Apple.
Tentang kinerja dan lainnya, pagi ini saya belum tahu karena belum mencoba, sementara pemiliknya sedang belajar. BTW, kantor pos dan Bea & Cukai menganggap iPhoney sebagai iPhone beneran, sehingga “importirnya” akan kena bea untuk iPhone.

Cermatilah iklan pedagang ponsel di koran Yogyakarta, misalnya Kedaulatan Rakyat. Ada dua mister di sana. Yang pertama Mr Kendel (kendel artinya berani). Yang kedua Mr Blue (pakai pici, tapi di bawah tanpa pici — mirip blogger tenar yang berkacamata). Semangat dagelan adalah bagian dari Yogya.

Ada saja cara mempromosikan diri perguruan tinggi. Antara lain melalui transit ad.

Mungkin kangen, mungkin manja, mungkin rewel, mungkin kadung tergantung. Maunya dibawa terus. Versi lain dari produsen cemilan subversif.

Di sebuah kantor baru yang sedang berbenah, selama beberapa minggu jam dindingnya ditempel di batang pohon. Boleh juga idenya. Yang penting tetap fungsional.

Akhirnya terbit juga. Kumpulan tulisan SGA yang pernah dimuat media cetak. Kalo dipikir-pikir isinya kadang mirip blog. Ringan, renyah, dan sesekali memusingkan.

Ekspatriat yang akan atau barusan ngepos di Indonesia biasanya sudah belajar beberapa kata dan kalimat sederhana. Misalnya “selamat pagi” dan “terima kasih”. Tapi ada satu yang tak mereka pelajari, yakni kata “polisi”. Itulah sebabnya mobil-mobil polisi yang menjaga wilayah kedutaan asing di Jakarta bertuliskan “police”. Nggaya? Oh tidak. Pak Kumendan Polisi hanya meneruskan ucapan sopir dan kernet angkot, “Awas, ada polis!”

© foto: blogombal.org