2008
Pria dan Serviks
Tas kantong macam ini mestinya juga disebarkan kepada para pria. Syukur jika mereka mau memakainya. Bahwa itu akan mengundang pertanyaan tentang serviks (”Emang tempatnya di mana?”) dan seterusnya, ya silakan belajar.

Tas kantong macam ini mestinya juga disebarkan kepada para pria. Syukur jika mereka mau memakainya. Bahwa itu akan mengundang pertanyaan tentang serviks (”Emang tempatnya di mana?”) dan seterusnya, ya silakan belajar.


Seseorang bertanya adakah tempat aneh yang baru di Jakarta? Saya bilang tidak baru tapi lumayan menakjubkan. Suasana bahari dipindahkan ke puncak menara. Meteran pengukur ketinggian air mungkin bisa dipakai untuk menentukan apakah Jakarta sudah menjadi Water World jika ada banjir. Apakah itu tempat untuk anak-anak, tanya entah siapa. Sensasi urban, kata saya sok tahu.


Di sebuah kedai saya temukan majalah gratisan yang memuat tulisan saya. Saya lupa nama majalahnya, maklumlah sekarang ini banyak banget yang gratisan. Kreditasinya lengkap. URL artikel pun diangkut. Seingat saya belum ada permintaan izin tertulis sebelumnya. So? Ndak apa-apa, silakan saja. Bukankah saya sudah membuat disklaimer di bagian bawah halaman blog? Lebih mendasar lagi: saya pun sering mencomot karya orang, dengan maupun tanpa permisi. ![]()

Setelah bus pakai tulisan dephan di belakhang, si penulis kembali mengirimkan e-mail dan foto. Dia heran kenapa tidak ada konsistensi kata dan abreviasi.

Minuman andalan sebuah kedai 24 jam di bilangan Kota, Jakarta. Sayang tanpa juice cianjur. Tidak ada hubungannya, tapi saya angkut ke sini lelucon garing basi. Suatu saat seorang teteh pulang ke kampung karena kapok di kota. Lantas dia buka warung minuman sari buah. Tetangga bergunjing, “Kumaha atuh, sekarang namanya ganti jadi I-ce Ju-ice. Kayak orang kota.”

Sebelum ada kaca, apalagi plastik, bagaimanakah para pemilik kedai memamerkan masakannya tanpa mengundang lalat?

Saya lupa siapa pemilik hak cipta atas gambar klasik, yang berasal dari kartu pos zaman Hindia Belanda ini. Gambar ini sering direproduksi dan jadi hiasan. Summarecon Mal Serpong, Banten, bahkan menjadikannya sebagai poster besar (yang tentu saja berbutir kasar). Gambar orang sedang menikmati candu (opium) ini, bersama gambar eksotis lainnya, menjadi penghias area jajan Downtown Walk.

“Kamu udah sarapan?” tanya Wuk dari seberang sana. Dia lagi jemput si kecil. Saya sudah tiba di rumah, dari mengantar si sulung ke Rawabangke eh Rawabunga. Saya jawab, “Udah.” Di mana? Saya bilang takut menjawab. Hayo di mana? Saya bilang pokoknya sudah. Dia mendesak terus. Akhirnya saya mengaku. “Curang! Ke sana sendirian. Awas! Besok harus nganter aku ke sana! Bener lho! Janji ya?”
Saya tadi sarapan gudeg Bu Hardjo di Pasar Cikini. Enak. Komplet. Pakai suwiran ayam kampung. Kalau malam, gudeg yang saya suka adalah yang di emperan AntaTour, Jalan Hayam Wuruk.

Pesan terbingkai ini dipasang di kedai Raja Soto, dekat Jatibening, Bekasi.

Kacang plastikan dalam setoples itu begitu menggoda. Tapi ketika didekati, uap ruang menyengat hidung langsung membatalkan niat. Maklumlah, kacang itu adalah dagangan esktra sebuah toko kimia di Pondokgede yang menjual rodentisida dan segala pemunah hama, termasuk pembasmi tikus dan celeng dalam satu sachet.