
Lampu bekas pakai dari Pak Doktor itu akhirnya pensiun. Usianya tak sampai setahun. Lumayan, dia bertahan enam bulan. Santai saja, lebih dari sekali saya mengalami lampu baru yang terpasang langsung putus. Yang terakhir, bukan ini, begitu terpasang bisa menyala lalu redup, dan dua minggu kemudian menyerah, padam. Untung bergaransi sehingga bisa saya tukar dengan yang baru. Yang ini? Terlalu kalau kita minta garansi.

Mulanya ketika mencari gambar kerbau di Google, untuk ilustrasi di situ, saya malah mendapatkan gambar cewek. Setelah sampai ke situsnya, saya menjumpai gambar promo bertema “nasi rames” Malaysia itu. Ketika saya mencari versi yang lebih tajam malah mendapatkan versi burger. Menarik, operator sadar keragaman konsumen. Isi pesan sih sama. Nah, temuan dari kata kunci “kerbau lumpur” yang mengantarkan saya ke situs promo Streamyx itu lihat di bawah.


Itulah kekuatan brand di benak konsumen. Di dalam benak itu ada harapan, keyakinan, bahkan kebanggaan terhadap produk. Bagi produsen dan pedagang yang “kreatif” dan “smart”, dalam arti tak mau kecapekan membangun merek sendiri, bermirip-mirip bukan masalah. Toh konsumen juga mau. Apalagi harganya di bawah Rp 1 juta, ber-Wi-Fi pula.
Mirip iPhoney, ketika iPhone belum resmi masuk Indonesia.

Mestinya ukuran bingkai SIM card memang semakin mengecil karena yang penting kepingnya. Dulu, belasan tahhun lalu, memang ada ponsel yang slotnya seukuran bingkai SIM card. Tapi kalau sekarang keping dijual tanpa bingkai, padahal tanpa kemasan yang besar, pasti gampamg terselip. Oh ya adakah di antara yang mengoleksi kartu perdana tanpa keping terlepas?

Makin jarang orang mengirim kartupos, kecuali untuk kuiz dan sejenisnya. Bagaimana dengan kartu garansi ponsel? Kartupos ini menyesuaikan diri dengan ukuran kemasan. Maka ukurannya pun separo kartupos biasa. Bisa-bisa terselip dalam penyortiran. Belum lagi cara menuliskan nama pengirim di atas permukaan gelap — harus pakai spidol perak/emas. Eh, “kartu pos” atau “kartupos” sih?