memo | blogombal.org

masih saja ada tempat untuk membual

Yah, namanya juga gombalan. Di sana ada, di sini nongol. Murah meriah, ada sedia di mana-mana tempat. Jikalau kuciwa, pulanglah -- tapi lain hari kembalilah.


10.24

2007

Stiker Penyadaran

travel warning majalah AdDiction

Beberapa kali AdDiction, majalah gratisan tentang periklanan, milik PPPI DKI, yang dikelola tim Pakde, menyisipkan bonus. Katanya buat ditempel di angkot dan… koper! Salut.

NB: Bagaimana pendapat daripada Yang Mulia Menteri Desain?

10.24

2007

Kenangan Pemilu

kaos partai dagadu

Saya temukan kaos yang jarang dipakai ini di tumpukan terbawah dalam lemari. Bikinan Dagadu.

Bonus: Partai Retro 

NB: Pemilu dari kata dasar “pilu” kan?

10.24

2007

Copy that Sells

liflet kunci cap logo

Kreativitas bisa membingungkan. Meminjam persepsi khalayak malah bisa menyesatkan. Menawarkan keindahan dan elegansi desain bisa memelesetkan.

“Koh, situ jual kunci yang disukai monyet? Berapa harganya?”

Pemilik toko menjawab, “Sampeyan nggak bisa bedain mana kera, simpanse, gorila, orangutan, atau munyuk, ya?”

10.24

2007

Kenapa nggak Ngeblog, Bung? (atau Sudah?)

harmoko pujaan rakyat

Betul lho, Bung. Sebagai tokoh pers pembangunan yang mencita-citakan pers bebas dan bertanggung jawab, pun mencerdaskan rakyat,  dan selalu ingin membuat khalayak sadar media (ingat klompencapir?), Bung itu sebaiknya ngeblog sejak dulu. Di “era informasi” ini Bung… blablabla… anuanuanuanu…

Apa kabar Bung? Sehat? Betul lho Bung, bikin blog saja… Saban hari di-update. Tak perlu petunjuk.

Repro: dari Pos Kota, koran yang Bung dirikan itu 

10.23

2007

Pameran Reklame

Undangan dari Santi Gerilyawati. Silakan datang. Kayaknya beberapa bloggers dari kalangan periklanan bakal hadir di sana. Boleh minta tanda tangan dan berfoto bareng Pakde Totot.

pemeran & seminar iklan

pemeran & seminar iklan pemeran & seminar iklan

10.23

2007

Tas Belacu sok Gaya?

tas belacu aksara

The Body Shop beberapa kali bikin tas belacu. Isi pesannya ya sangat Anita Roddick. Tempo hari Aksara juga bikin lagi. Atas nama spirit pengurangan plastik. Harganya Rp 10.000. Padahal toko itu menggunakan banyak plastik, sebagai pembungkus dagangan terpajang maupun plastik sebagai materi produk jualan.

Kelas menengah tanggung selalu snob? Hanya ambil unsur fashion-nya (bukan dalam arti stylish, tapi aktual, nge-hip), padahal kognisinya payah, dan lebih parah lagi tak sampai ke praktik keseharian?

Bagi saya itu tak soal. Penyadaran adalah sebuah langkah panjang tiada henti. Seperti membangun jalan setapak yang justru dibuat tanpa semangat membangun. Terlalu sering, dan selalu, dilalui akhirnya menyibak rumput dan perdu, lalu melebar. Orang lain, di hari esok, akan menjadikannya sebagai jalan lebar. Dengan membangun.

Huh, “membangun”. Tiga dasawarsa menjadi mantera.

Apa kabar Timpakul?