2007
Sandal Kere
Lha buat apa beli mahal-mahal kalau cuma sandal bandhol kayak gini? Dulu Pak Penjualarang, entah orang Bringin entah Kedungjati, langganan ibuku, juga pakai ginian.

Lha buat apa beli mahal-mahal kalau cuma sandal bandhol kayak gini? Dulu Pak Penjualarang, entah orang Bringin entah Kedungjati, langganan ibuku, juga pakai ginian.

Weh, jadi inget masa remaja ketika melihat header Budi Rahardjo yang nge-Roger Dean. Pak Dean emang hebat. Logotype bikinannya sangat kuat. Yes dan alumninya sering pakai.

Ada saja orang yang selalu menanya ke alamat yang salah, misalnya ke aku, dari soal zodiak, jodoh, sampai ngeblog. Yang paling aneh adalah, “Paman bagaimana bikin tulisan yang lucu?”
Aku bukan orang lucu, dan nggak suka humor apalagi guyon cengengesan. Tulisanku jauh dari lucu. Kalo mau tahu cara ngelucu ya tanya penulis naskah kelompok pelawak atau orang-orang di radio SK Jakarta.
Atau kontaklah orang-orang lawas di Tempo. Majalah itu dulunya lucu, malah pernah menyebut diri “Jenaka pun bisa”. Dulu ketika merekrut reporter di kampus-kampus, salah satu syarat adalah “punya sense of humor”.
Tapi kenapa Den Bagus Wicak nggak lucu eh kurang lucu ya? ![]()
Jalan ini memang ada di Jakarta. Panjang banget. Tapi jarang yang memakai sebagai alamat rumah atau kantor. Aku pernah pakai. Lantas kupikir-pikir, itu berarti aku tinggal di kolong jalan yang kemudian digusur itu.
Ada sajaaaa. Dari Blog SEO Indonesia aku dapat info penggadaian nama domain. Dulu zaman kuliah di Yogya, temen-temen menggadaikan mesin tik sampai sepeda motor. Belum sampai menggadaikan pondokan sih, bisa-bisa dikepruki induk semang. Menggadaikan kantor jurusan atau ruang dekan kayaknya asyik juga sih. Bayangkan kalo di ruang tergadaikan itu tiba-tiba ada kasur, rice cooker, compo, gitar, dan keranjang cucian. Gara-gara gadai nggak ketebus maka agunan diambil orang.

Dan kamu pun bertanya, “Apa bedanya blog memo ini dengan blogombal.org? Kalo yang label, kartu, barang emang beda. Lha ini?”
Aku bilang, “Yang induk itu gombal, yang ini lebih gombal.”
“Kenapa nggak disatuin aja?”
“Apa harus jadi satu?”