memo | blogombal.org

masih saja ada tempat untuk membual

Yah, namanya juga gombalan. Di sana ada, di sini nongol. Murah meriah, ada sedia di mana-mana tempat. Jikalau kuciwa, pulanglah -- tapi lain hari kembalilah.



08.08

2008

Tak Kenal maka tak Lepas

Poster iklan majalah Esquire Indonesia di tembok tepi jalan, seberang Lab School Jakarta Selatan. Sugestif, mengelus ego, seolah semua pria sudah paham, tapi pengetahuannya perlu dipercanggih. Begitulah cara memanjakan pria. Jangan bilang mereka belum tahu atau bodoh. Sampai dewasa pun pria masih membutuhkan pengganti ibu yang selalu menyebut putranya pintar. :D

cara melepaskan bra atau beha atau kutang

08.01

2008

Iklan Nakal-Lucu-Cerdas

 

Ternyata iklan lawas, tapi saya baru nemu tadi. Untuk Indonesia kira-kira kenakalan macam apa ya yang elegan dan bisa diterima? Dulu di TV kita ada iklan suplemen buat yang menghasilkan intipan ibu-ibu muda ke jendela tetangganya — tapi kesannya kok maksa, aneh, wagu. Yah semuanya juga terpulang ke zaman dan latar kemasyarakatan. Pada akhir 70-an, iklan Bata di TVRI ditutup dengan manis: close up sepatu pria dan sepatu wanita berhadapan lantas tumit si wanita diangkat. Jinjit, kata orang Jawa. Apakah pesannya nyambung, itu soal lain. Tapi ada upaya bernakal-nakal yang manis, begitulah. :)

Blogger dalam Iklan

Siapa bilang blogger cuma orang iseng yang tak bernilai bisnis? Si Kambing Jantan sudah membantahnya. Dia jadi model iklan laptop. Di-endorse dan kasih testmimoni. Dia memang layak. Bravo!

raditya dika kambing kocak

06.23

2008

Kutang di atas Skuter

Beginilah cara kreatif mengiklankan beha ala Wonder Bra. Moral cerita: hasil yang baik mestinya diimbangi dengan penghargaan terhadap orang yang memboncengkan, supaya tak kena delik pelecehan seksual terhadap pria. :D

iklan kutang wonder bra

Advertising Agency: TBWA Praha, Czech Republic / Creative Director: Petr Bucha / Art Director: Charles Salmon / Copywriter: Jérémie Pouchin / Photographer: Aurélien Meunier

05.20

2008

Iklan Gereja (dan Lainnya)

Saya belum menemukannya di blog pemasang AdSense dan sejenisnya. Tapi di layanan blog gratisan, semisal Blogdrive (pada jendela popup untuk komentar), saya beberapa kali mendapati iklan Scientology. Iklan yang nongol di luar kedali si blogger kecuali (mungkin) menggunakan layanan berbayar.

iklan scientology

Di satu sisi itu hak si gereja untuk beriklan. Di sisi lain, juga hak orang yang tak sealiran untuk risih. Ya, ini soal peka, karena menyangkut agama. Bisa saja kasusnya dibalik, misalnya itu iklan (maaf) lembaga Islam, apakah yang nonmuslim juga berhak berkeberatan? Sejauh ini saya belum dengar rasan-rasan itu, tapi izinkanlah saya membuat cacatan dengan niat tukar pikiran.

Kasus yang lebih “ringan” adalah iklan “cara gampang cari duit” dan “mendapatkan cewek jomblo”, yang boleh jadi tak sealiran dengan si blogger pemilik halaman.

Bagaimana dengan iklan partai, apalagi jika, walah, berbendera keagamaan?

Inilah bedanya media cetak, TV, dan internet. Di koran, majalah, dan TV (non-berbayar), pembaca hanya merasa menjadi pembaca. Medianya tetap milik si penerbit.

Di internet, terutama blog, si blogger pemanfaat layanan (gratis) itu merasa ikut memiliki tapi tak kuasa menyaring jenis iklan yang ada di blognya.

Saya tak hendak mengembuskan hawa perseteruan, apalagi membawa-bawa agama. Tidak, tidak, tidak.

Justru saya ingin mendiskusikan hal ini secara dewasa dengan Anda semua. Perkara iklan di blog ternyata bisa memunculkan hal yang (mungkin berpotensi) bikin tidak nyaman. Lain soal jika iklan itu (termasuk iklan erotis) memang dipasang dengan seizin atau melalui pengaturan oleh blogger yang bersangkutan.

Jawaban paling aman, mungkin, “Ah, cuekin aja. Nggak usah diklik. Gitu aja kok repot.” :D

05.02

2008

Gaya Lokal sih, tapi Apakah masih Nyambung?

Dulu, duh iklan susu apa pasta gigi di TV ya, yang pakai adegan anak kecil memegang telinganya dengan menyeberangi kepala. Konon itulah pendekatan lokal, yang hanya dipahami oleh orang Indonesia.

Tapi sekarang ini, untuk masyarakat urban (baca: Jakarta), apakah guyon berupa pengukuran daya jangkau tangan terhadap daun telinga dengan menyeberangi lingkar atas kepala, sebagai pengukur kecukupan usia masuk sekolah, itu masih ada dan dipahami?. (Maaf kalimat saya panjang). :D

jangkau telinga untuk mengukur kelayakan usia