memo | blogombal.org

masih saja ada tempat untuk membual

Yah, namanya juga gombalan. Di sana ada, di sini nongol. Murah meriah, ada sedia di mana-mana tempat. Jikalau kuciwa, pulanglah -- tapi lain hari kembalilah.



06.19

2008

Kuno, Jaminan Mutu :)

Sejarah adalah reputasi. Bisa jadi alat unjuk diri. Tapi pada 1969, ketika belum ada EyD, ejaan yang lazim adalah “ibu” dan bukan “iboe”. Hanya merek tertentu dari masa kolonial yang suka ber-”oe”. Tapi kalau mau konsisten, mestinya “harum” ditulis “haroem” atau “aroem”. Celakanya main-main teks ala jadul zaman sekarang kadang main hantam krama. Apa pun yang “u”, terutama dari bahasa Eropa (Belanda), dijadikan “oe”. Salah kaprah yang menyesatkan. Huruf “u” dilenyapkan. Misalnya? “roebrik”. :D

binatu di jalan ahmad dahlan jakarta

05.02

2008

Gaya Lokal sih, tapi Apakah masih Nyambung?

Dulu, duh iklan susu apa pasta gigi di TV ya, yang pakai adegan anak kecil memegang telinganya dengan menyeberangi kepala. Konon itulah pendekatan lokal, yang hanya dipahami oleh orang Indonesia.

Tapi sekarang ini, untuk masyarakat urban (baca: Jakarta), apakah guyon berupa pengukuran daya jangkau tangan terhadap daun telinga dengan menyeberangi lingkar atas kepala, sebagai pengukur kecukupan usia masuk sekolah, itu masih ada dan dipahami?. (Maaf kalimat saya panjang). :D

jangkau telinga untuk mengukur kelayakan usia